Telp : (0274) 550843 Ext 512
Bahasa Indonesia
English

Yogyakarta, 13 Februari 2026 - Seminar dengan tema Ein Liebesbrief für Java: Buchvorstellung und Mitdichen menghadirkan pembicara yang bernama Dr. phil. Claudia Seise. Bertempat di Ruang Seminar WS. Rendra, seminar ini membahas bagaimana bahasa, rasa, dan puisi saling berkaitan serta berperan sebagai alat untuk memahami budaya lebih dalam. Selain itu, seminar juga mengenalkan konsep Mitdichten, yaitu kegiatan mencipta puisi secara bersama-sama sebagai cara untuk menghargai bahasa dan sastra.
Frau Claudia Seise menjelaskan bahwa belajar bahasa tidak hanya dilakukan dengan memahami struktur dan arti kata secara berpikir, tetapi juga dengan melibatkan perasaan. Menurut beliau, bahasa Jawa dan bahasa Jerman memiliki rasa yang sangat kuat. Tidak semua orang perlu memahami setiap kata atau kalimat untuk merasakan makna yang ingin disampaikan. Dengan membaca satu puisi yang sederhana terlebih dahulu, pembaca bisa mencoba memahami artinya dengan melihat kata-kata dan cara puisi tersebut dibacakan. Untuk memahami sebuah puisi, ada dua hal utama yang perlu diperhatikan, yaitu topik atau hal apa yang dibahas dalam puisi itu dan cara pesan tersebut disampaikan melalui bahasa yang digunakan.
Salah satu puisi yang dibacakan oleh Frau Dr. phil. Claudia Seise berjudul “Der Bambus”. Puisi itu membicarakan bambu, termasuk bagian-bagian kerangkanya dan bentuknya. Meskipun bambu tidak banyak ditemukan di Jerman, puisi ini menunjukkan bahwa bahasa Jerman tetap bisa menggambarkan sesuatu yang berasal dari budaya lain. Awalnya, kata-kata dalam puisi terasa aneh dan sulit dipahami, tetapi dengan cara bacanya dan suasana yang diciptakan, maknanya tetap bisa terasa. Selanjutnya, terdapat kalimat “Das Geheimnis, es lebt in der Leere” dalam puisi ini yang diartikan sebagai ruang kosong dalam bambu yang justru bisa dipakai untuk banyak hal, seperti membangun rumah, alat musik, dan sebagainya. Sebab itu, rongga pada bambu menyimpan rahasia berupa manfaat dan kekuatan.
Seminar dilanjutkan dengan materi tentang Mitdichten. Frau Claudia Seise menjelaskan bahwa istilah Mitdichten bukan merupakan istilah resmi dalam bahasa Jerman dan tidak terdapat dalam kamus. Namun istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan kegiatan membuat puisi secara bersama-sama. Istilah tersebut diperkenalkan oleh rekan Frau Claudia Seise bernama Frau Leila Keimal Abdul Salam, seorang guru bahasa Jerman yang berasal dari keturunan Sudan. Bersama rekannya, Frau Claudia Seise pernah menulis sebuah buku yang berisi sekitar 40 puisi yang ditujukan bagi anak-anak yang berusia sekolah dasar atau lebih besar. Mereka juga membuat buku lain yang berisi 20 puisi yang ditujukan untuk anak-anak taman kanak kanak. Tujuan utama dari proyek ini adalah agar puisi kembali dikenal oleh para generasi muda. Menurut Frau Claudia Seise, puisi adalah salah satu bentuk kekayaan budaya yang sangat berharga, tetapi semakin sedikit orang yang membacanya dan dapat mengpresiasinya. Padahal, puisi memiliki peran penting dalam membentuk kepekaan hati, mengajarkan manusia untuk melihat keindahan dunia, serta melatih kemampuan merasakan sesuatu secara lebih dalam.
Menjelang akhir acara, Frau Claudia Seise mengajukan ide yang menarik bahwa huruf memiliki haknya sendiri. Maksud dari kalimat itu adalah bahwa setiap huruf dan suara dalam bahasa memiliki ciri khas, peran, serta kecantikan yang unik. Huruf bukan hanya simbol untuk membentuk kata, tetapi juga berperan dalam menciptakan irama, suasana, dan keindahan dalam puisi. Oleh sebab itu, seseorang harus menghargai setiap huruf yang digunakan, karena huruf bisa menciptakan makna dan perasaan dalam sebuah karya sastra. Secara umum, seminar ini menjelaskan bahwa bahasa tidak hanya digunakan untuk berkomunikasi, tetapi juga membantu kita merasakan dan memahami dunia di sekitar kita. Puisi bisa jadi cara yang baik untuk menyampaikan perasaan, budaya, sejarah, dan juga pemikiran tentang diri sendiri.(Geby)
Copyright © 2026,