“Sprache öffnet Türen”: Prof. Sonja Fritzsche Ajak Mahasiswa Belajar Bahasa Lewat Budaya dan Kolaborasi

Pada Selasa, 12 Mei 2026, Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya (FBSB) Universitas Negeri Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan visiting lecturer bersama Prof. Sonja Fritzsche, profesor bidang Studi Jerman dari Michigan State University. Kegiatan akademik ini dihadiri sekitar 40 mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Jerman FBSB UNY yang mengikuti workshop dengan antusias dan partisipasi aktif sejak awal hingga akhir sesi.

Dalam pemaparannya, Prof. Sonja Fritzsche menekankan bahwa pembelajaran bahasa asing, khususnya bahasa Jerman, tidak dapat dipisahkan dari pengalaman budaya, interaksi sosial, dan keterlibatan komunitas. Menurut beliau, belajar bahasa bukan sekadar menghafal struktur gramatika atau kosakata, melainkan proses membangun kemampuan untuk memahami dunia dan berkomunikasi secara bermakna. Oleh karena itu, beliau memperkenalkan konsep “5Cs” sebagai fondasi pembelajaran bahasa modern, yaitu communication, culture, comparison, connection, dan community.

Pada aspek communication, mahasiswa didorong untuk menggunakan bahasa Jerman secara aktif dalam situasi nyata, seperti diskusi, presentasi, maupun simulasi percakapan sehari-hari. Bahasa dipahami sebagai alat komunikasi yang hidup, bukan hanya materi teoritis di kelas.

Aspek culture menekankan pentingnya memahami budaya masyarakat penutur bahasa Jerman, termasuk nilai, kebiasaan, cara berpikir, dan ekspresi sosial yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari maupun karya seni. Dalam sesi ini, Prof. Fritzsche mencontohkan pembelajaran melalui apresiasi film berbahasa Jerman. Melalui film, mahasiswa tidak hanya belajar kosakata dan ekspresi autentik, tetapi juga memahami konteks budaya, hubungan sosial, humor, hingga isu-isu masyarakat di negara berbahasa Jerman. Film menjadi media yang efektif untuk menghadirkan pengalaman bahasa yang lebih nyata dan kontekstual.

Sementara itu, comparison mengajak mahasiswa membandingkan bahasa dan budaya Jerman dengan budaya Indonesia. Perbandingan tersebut membantu mahasiswa memahami perbedaan pola komunikasi, ungkapan, maupun nilai budaya sehingga meningkatkan sensitivitas lintas budaya.

Pada aspek connection, pembelajaran bahasa dihubungkan dengan disiplin ilmu lain, seperti sejarah, sastra, media, teknologi, dan pendidikan. Dengan demikian, bahasa Jerman tidak dipelajari secara terpisah, tetapi menjadi jembatan untuk memperluas wawasan akademik dan global mahasiswa.

Adapun community menekankan pentingnya keterlibatan mahasiswa dalam komunitas pembelajar bahasa, baik di lingkungan kampus maupun dalam jaringan internasional. Bahasa dipandang sebagai sarana membangun relasi dan kolaborasi antarbudaya.

Workshop berlangsung secara interaktif dan kolaboratif melalui diskusi kelompok, analisis media, serta berbagai aktivitas komunikatif yang melibatkan mahasiswa secara langsung. Para mahasiswa tampak aktif bertanya, berdiskusi dalam bahasa Jerman, dan berbagi pengalaman belajar mereka. Suasana kelas yang dinamis menunjukkan tingginya minat mahasiswa FBSB UNY terhadap pengembangan pembelajaran bahasa Jerman yang komunikatif, kreatif, dan berorientasi global.

Melalui kegiatan visiting lecturer ini, FBSB UNY berharap mahasiswa memperoleh perspektif baru mengenai pembelajaran bahasa asing di tingkat internasional sekaligus memperkuat jejaring akademik dengan institusi pendidikan luar negeri dalam bidang pengajaran bahasa dan budaya Jerman. (Aditya Rikfanto, S.Pd., M.A.)